Senin, 28 Mei 2012

Klenteng Boen Hay Bio


   Klenteng ini terletak di jalan Pasar Lama, Desa Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan. Letaknya sekitar 15 meter dari jalan uatama yang sering di lalui truk-truk besar. 
    Bangunan Boen Hay Bio terlihat sangat kokoh dan terawat dengan baik, tak terlihat sudah berumur lebih dari 300 tahun. Klenteng Boen Tek Bio di Pasar Lama Kota Tangerang menjadi klenteng pertama yang di bangun pada 1684. Di susul klenteng Boen San Bio di kawasan Pasar Baru Tangerang pada tahun 1689. Bangunan klenteng Boen Hay Bio bertuan rumah Kwan See Kun atau Satya Dharma Bodhisattva yang berarti Dewa Pelindung Ajaran. 
    Boen Hay Bio memiliki sebelas altar pemujaan dewa-dewi. Altar pemujaan tersebut di antaranya Dewa Perang, Dewa Bumi, Dewa Rizeki, Dewa Keberkahan, Dewi Welas Asih, Dewa Keselamatan, dan Dewa Obat, Sembilan di antarnya berada di bawah dan dua altar lainnya berada di lantai dua, lantai dua juga terdapat ruang meditasi dan ruang pemujaan untuk para umat Buddha.
     Dalam tahun Baru China 2.563 sejumlah umat Tionghoa memenuhi klenteng Boen Bay Bio untuk melakukan ritual keagamaan untuk memohon keberkahan dan keberuntungan di tahun naga air. Boen Hay Bio merupakan salah satu cagar budaya di Serpong yang patut di jaga kelestariannya.
Sumber:

Minggu, 27 Mei 2012

Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong Semarang, Jateng
    Klenteng Sam Poo Kong selain merupakan tempat ibadah dan ziarah juga merupakan tempat wisata yang menarik untuk di kunjungi. tempat wisata ini juga di kenal dengan sebuatan "Gedong Batu". Ada yang mengatakan nama ini di pakai karena asal mula tempat ini adalah sebuah gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Tetapi ada sebagian orang mengatakan bahwa sebenarnya asal kata yang benar adalah Kedong Batu, alias tumpukan batu=batu alam yang di gunakan untuk membendung aliran sungai. 
    Pada tahun 1879 atau tahun kelima Guang Xu, kawasan Simongan di beli oleh Oei Tjie Sien. Oei Tjie Sien merupakan ayah dari Oei Tiong ham, penderma yang juga di kenal sebagai raja gula Indonesia pada zaman itu, Sejak saat itu, para penjiarah dapat bersembahyang di kuil Gedong Batu tanpa dipungut biaya apapun dan urusan pengurusan kuil diserahkan kepada Yayasan Sam Poo Kong setempat. Pawai Sam Poo Kong itu di hidupkan kembali pada tahun 1937 dan terus menjadi data tarik hingga sekarang.
sumber:

Trackback URL for "Klenteng Sam Po Kong"

http://www.visitsemarang.com/trackback/25